Jakarta - Siapa bilang kuliah itu gampang? Bagi sebagian orang mungkin gampang, tapi bagi sebagian orang yang lain bisa jadi susahnya minta ampun. Di Indonesia, kita tidak bisa menyamaratakan keadaan masyarakat. Apalagi keadaan ekonominya. Mungkin bisa, kalau pembangunan Papua sama seperti Jakarta.
Konon, sekarang pemerintah menyediakan banyak beasiswa, jadi tidak perlu keluar banyak uang agar bisa kuliah. Itu semacam pernyataan doktrin, kadang berhasil, kadang juga tidak. Saya adalah contoh berhasil dari doktrin itu. Yang tidak berhasil juga banyak. Saya punya teman, karena ia tidak berhasil mendapat beasiswa, akhirnya tak jadi kuliah. Padahal ibunya sudah koar-koar ke tetangganya kalau ia sudah diterima. Tinggal menunggu beasiswanya.
Tetapi jika dibandingkan, kira-kira lebih banyak mana, orang kuliah dengan uang mandiri atau dengan beasiswa? Otomatis lebih banyak yang pakai uang mandiri. Kata Menteri Kauangan Sri Mulyani, masyarakat Indonesia yang menerima beasiswa masih sangat rendah, hanya 0,1 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan pada 2021 saja, BPS mencatat, di perguruan tinggi, mahasiswa penerima beasiswa atau bantuan pendidikan hanya 9,60%. Itu jumlah yang amat sangat sedikit.
Artinya, persyaratan untuk memperoleh beasiswa hanya bisa dipenuhi oleh sebagian kecil mahasiswa. Mungkin mereka itu yang pintar atau yang beruntung. Mungkin juga karena lewat orang dalam. Soal beruntung ini tidak kenal waktu. Bisa tepat sesuai keinginan, bisa juga tidak.
Seperti yang dialami oleh teman saya, Andi (27) namanya. Ia termasuk sebagian orang yang beruntung bisa mendapat beasiswa S2 COVID di salah satu PTN di Surabaya. Kenapa beruntung, karena dari satu jurusan, yang diambil cuma satu. Padahal bersamaan dengan dia daftar, ada mahasiswa lain yang tercatat namanya cukup harum di jurusan. Selain harum, dia juga dekat dengan salah satu guru besar di jurusan yang sangat disegani di kampus. Tapi nyatanya itu tak menjamin.
"Saya juga tak tahu bagaimana tim seleksi menilainya. Mungkin karena saya rajin ibadah dan sering mendekatkan diri pada Tuhan," kelakarnya sambil tertawa saat kami bertemu di salah satu warung kopi di Surabaya, pada Sabtu (10/8/24).
Mimpi Menjadi Dosen
Saat itu dia memutuskan kuliah lagi karena berpikir nantinya akan menjadi dosen. Padahal ketika diterima, ia sudah mengajar di salah satu sekolah Islam swasta yang bisa dibilang cukup mahal di Surabaya. Menurutnya, menjadi dosen itu simpel. Ngajarnya juga enak. Tidak seperti guru, ribetnya minta ampun. Memang dosen ada tanggungan administratif, tapi dia melihatnya tidak serumit guru.
Di sisi lain, dosen juga cenderung berpakaian bebas, asal sopan. Pakai celana jeans, kemeja rapi, dan tidak harus berseragam seperti guru pada umumnya. Misalkan pakai seragam ASN yang coklat, pakai batik, dan pakai seragam Korpri.
"Jadi dosen juga enak, tambahannya lebih banyak. Penelitiannya bisa dapat uang. Kalau di sekolah, mana ada guru melakukan penelitian, terus dapat uang," terangnya sambil pasang muka agak mengejek.
Bayangkan, meski sekolah mahal, namun bayaran dia sebagai guru bisa dibilang sangat sedikit. Tak sebanding dengan SPP siswanya yang dibayar tiap bulan. Ia seperti guru honorer pada umumnya. Hitungannya per jam. Jadi kalau jam mengajarnya sedikit, bayarannya juga sedikit. "Paling banyak saya pernah dapat 1,5 juta. Kalau buat hidup sendiri masih bisa, tapi kalau berkeluarga, rasanya mustahil bisa mencukupi," ujarnya.
Makanya ia ingin mengubah nasib dengan mengambil S2. Tapi sayang, harapannya tidak semulus yang ia kira. Setelah lulus S2, ia malah bingung karena masih mengajar di sana dengan gaji segitu-gitu saja. "Mau keluar, kepala sekolahnya tidak setuju kalau saya keluar. Mungkin magister di sana adalah aset sekolah yang diunggul-unggulkan saat akreditasi," ungkapnya.
Malah sekarang ia ditambah jam mengajar mata pelajaran selain yang biasa ia ajar. Bahkan dua mata pelajaran, sosiologi dan pendidikan kewarganegaraan. Memang gajinya bertambah, karena otomatis jam mengajarnya juga bertambah, tetapi bagaimanapun juga ia perlu belajar lagi. Belum lagi kalau ia harus membuat perangkat pembelajaran. Tanggungannya malah lebih banyak. "Mengajar dua jenjang saja ribetnya minta ampun. Sekarang malah ditambah dua mata pelajaran berbeda," keluhnya.
Meski gajinya nambah, tapi tambahnya tak banyak. Tak sampai UMR Surabaya. Bahkan UMR Lamongan saja tak sampai. Kadang sesekali gengsinya dia keluar. Dalam hatinya, ia selalu mengeluh, lulusan S2 gajinya cuma segini. Ia merasa dilema. Jika terus-terusan mendapat gaji segitu, ia takut menikah. Takut menjalin hubungan serius dengan perempuan. Yang lebih ditakutkan, jika nanti menikah, ia tak sanggup membiayai keluarganya.
Nasib Berkata Lain
Harapannya sederhana, cukup diterima menjadi dosen tetap di PTN, tetapi nasib berkata lain; ternyata jurusan yang ia ambil, jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, tidak laku di pasaran loker dosen. Sangat minim, bahkan bisa dibilang tidak ada. "Pernah ada lowongan dosen tetap, tapi persyaratannya harus S3," katanya.
Kalau kondisinya seperti itu, andaikan ia jadi S3, tidak menutup kemungkinan juga bakal tetap jadi guru. Karena itu yang pasti. Sedangkan yang dosen masih harapan. Perlu banyak cara dan waktu untuk mencapainya. Bagaimana tidak; lowongan sangat minim, jalur orang dalam juga kadang ada, kadang tidak. Kalau ada juga tak bisa dibuat jaminan. Tak ada harapan, kecuali berjuang sendiri secara mandiri.
Pilihannya simpel, mau S2 jadi guru atau S3 jadi guru. Jelas beban gengsinya lebih besar S3 jadi guru. Sekarang S2 guru sudah banyak. Yang belum malah S3 jadi guru. Apalagi hanya jadi guru biasa, tidak jadi guru struktural atau menempati posisi tertentu di sekolah.
Ia sendiri pun mengakui, beasiswa yang ia dapat waktu S2 itu hanya keberuntungan, bukan karena ia pintar. Makanya, rencana dia mau lanjut S3 agak sulit, lantaran tak punya biaya dan tak cukup pintar untuk mendaftar beasiswa.
Ia bercerita, katanya ada jalan lain, yaitu membantu penelitian dosen. Dari situ nanti bisa dimanfaatkan lewat jalur orang dalam. Makanya, sepanjang kuliah S2, ia coba mendekati salah seorang guru besar muda yang baru saja diangkat, yang lagi gencar-gencarnya penelitian.
Pelan-pelan ia berhasil. Setiap kali Profesor itu melakukan penelitian, ia selalu dilibatkan. Meski begitu, sudah sekitar tiga tahun ia bersama Profesor itu, berharap bisa dimanfaatkan, nyatanya malah ia yang dimanfaatkan. Tidak ada kejelasan jadi dosen, malah jadi budak penelitian sang Profesor itu.
Ahmad Baharuddin Surya pengajar di Sekolah Progresif Bumi Shalawat, tinggal di Lamongan
Sumber: https://news.detik.com/kolom/d-7509578/dilema-seorang-lulusan-magister
Kesempatan yang Sangat Berharga Ketika Mengikuti Kegiatan Sertifikasi dengan LSP MSDM Cipta Unggul, Karena Mampu Mengelola Kegiatan Sertifikasi dengan Baik, Begitu Juga Komunikasi Sebelum dan Sesudah Kegiatan.
Abdi Hamdani
Deputi Direktur PT. Restu Agung Wijaya
Banyak Pengalaman dan Wawasan ketika Mengikuti Sertifikasi Skema Direktur karena Asesor yang Sangat Kompeten di Bidangnya.
Elant Siswi Anggraeni
Director of HR Hotel Bumi Surabaya
Tantangan SDM Indonesia adalah bagaimana bersaing dengan meningkatkan kompetensi. LSP Cipta Unggul bersama Asosiasi semoga dapat mewujudkan SDM Unggul Berkompetensi.
Joko Suyono
Profesional
Dengan Asesor yang berkompeten dibidanganya, saya yakin LSP Cipta Unggul mampu memberikan sumbangsih bagi Sumber Daya Manusia Indonesia yang Berkompeten.
Pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi Kerja (PSKK) Tahun 2024 Skema Staf Penggajian di STIAMAK Surabaya, 26 Juni 2024
TUK Hotel 88 Jakarta, 18 Agustus 2024
Pelaksanaan Uji Kompetensi Tahun 2024 Skema Manajer SDM di Hotel 88 Mangga 2 Jakarta, 18 Agustus 2024
Kegiatan LSP Cipta Unggul
Tenaga kerja berhak memperoleh pengakuan kompetensi kerja sebagaimana yang diamanatkan didalam UU Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003. Pengakuan bisa dilakukan antara lain dengan ikut sertifikasi profesi.
TUK Grand Darmo Skema Staf SDM, 9 Juni 2024
Pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi Kerja (PSKK) Tahun 2024 Skema Staf Sumber Daya Manusia di Hotel Grand Darmo Surabaya, 9 Juni 2024